Rabu, 02 Juli 2014

Penantian Terakhir

Tatapan mata itu tak asing baginya, begitu dekat, begitu terbiasa. Matanya berkca - kaca tak percaya "Dipertemukan untuk di persatukan."

"Pernikahan adalah titah Tuhan untuk menyempurnakan separuh dari agama mu." Tausiah itu menjadi teladan bagi Nai. Nai teramat kagum dengan pelantun adzan yang satu ini. Lelaki yang hanya terpaut beda usia dengannya empat tahun. Nai belum lama mengenalnya, banyak bicara dengannya dan akhirnya saling mengagumi. Mengangumi dalam diam dan harpan yang hampa. Syariah begitu kuat bagi keduanya.

Cinta bukanlah hal yang haram atau tabu bagi kepercayaan keduanya. Naun hanya pernikahan yang disarankan menyempurnakan selebihnya sebelum pernikahan adalah tabu dan haram. Nai tak bisa menyembunyikan perasaannya, begitupun dengan Ahyad yang bertahan menyimpan perasaannya. Masih utuh dalam ingatan Nai ketika pertama mengenal Ahyad. Ahyad yang menganggap Nai seusia dengannya, membuat Nai tertawa geli melihat ekspresi wajah Ahyad tak percaya.

Cinta mereka diuji dalam setiap pertiga malam. Ahyad mempertanyakan hati Nai pada Tuhan. Dan Nai mempertanyakan kesungguhan Ahyad pada Tuhan. Tuhan mereka tak perlu lama membiarkan hamba - Nya di penuhi pertanyaan. Hati itu saling menjalin setia, tanpa kata sepakat. Setia merasakan rindu yang sama, setia menjawab semua pertanyaan mereka dengan "Ya". "Ya, kami saling sepakat menjalani hubungan istimewa."

Pesan - pesan singkat dan telepon pengingat diterima Nai secara cuma - cuma dari Ahyad. Hingga Ahyad berjanji menemuinya. Ahyad dan Nai menyusuri jalanan ibu kota di temaramnya rembulan, ditemani gempitnya cahaya bintang gemintang. Menghabiskan separuh isya bersama, bercerita banyak hal secara pribadi untuk pertama kalinya. Diujung jalan, cerita itu berakhir dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh nalar. Mereka berpisah di persimpangan jalan, Ahyad menitipkan sebuah es krim untuk Nai.
"Penutup yang manis." kata Ahyad tersipu yang di balas dengan senyum Nai. Ahyad menatap Nai yang berjalan menjauh dari jaraknya, namun secara tiba -tiba Nai berbalik dan melambaikan tangannya pada Ahyad. Ahyad terus dibuat tersipu dengan semua kisah yang diceritakan Nai padanya, hatinya buncah oleh perasaan yang entah tak dipahaminya. Gadis itu, remaja yang memahami cara mencuri sudut hatinya.
"Nai, aku akan merindukan mu." pesan itu begitu saja Ahyad kirim pada Nai. Bersalahkan ia dengan rindu itu? Apa Nai memahaminya atau menepis dan merasa tak sudi harus membals pesan itu.
Nai tak percaya dengan apa yang dikatakan Ahyad. Sungguhkah rindu itu?. Nai tak mampu mengartikan perasaannya.

Ahyad dan Nai tersipu lantas ingin berlari menjauh ketika keduanya saling bertemu. Malam itu membuat keduanya terpaksa menahan semua perasaan itu. Nai inikah cinta pada Ahyad?. Ahyad mungkihkah mencintai Nai?. Keduanya terlalu kaku untuk mengakuinya. Ahyad selalu merindukan  Nai. Merasa sempurna melihat Nai tersipu padanya. Ahyad tak mampu menahannya lebih lama lagi, Ahyad sempat bertanya pada Nai,
"Nai, kamu masih muda. Apakah kamu cukup siap untuk menikah?."
"Aku? Ah, entahlah kak. Aku belum sempat memikirkan atau merencanakan kehidupan ku sejauh itu."
"Kenapa?."
"Aku belum mampu mempersiapkan diri ku untuk menjadi seorang istri. Aku belum sempurna untuk menjadi seorang istri."
"Haruskah menjadi sempurna untuk menjadi seorang istri?. Kapan kamu bisa menjadi sesempurna dalam ukuran mu menjadi seorang istri?."
"Entah KAK! Lihat aku! Aku yang masih berkuliah, aku yang belum bisa apa - apa untuk mengurusi orang lain. Aku saja masih menjadi urusan orang tua ku, mana bisa aku bisa mengurus orang lain selain diri ku sendiri Kakak!." Nada suara Nai terdengar lebih tinggi dari biasanya, Ahyad diam beberapa saat. Mengelola hati dan perasaannya menghadapi perempuan yang jauh lebih muda darinya.
"Kau tahu Aisyah binti Abu Bakar, ia dinikahi Rasulullah di usia yang sangat belia. Ia mampu menjadi Ummu Amirul Mukminin. Tak usah takut untuk menikah, Nai."
"Aku bukan Aisyah kak. Aisayah tak dibebani dengan tuntutan orang tuanya yang mengharapkan anaknya menjadi sarjana, atau diplomat seperti aku. Aisyah tidak dibebani orang tuanya untuk menyelesaikan kuliah, kemudian baru boleh menikah setelah selesai. Aku bukan Aisyah, kak."
Ahyad hanya terdiam mendengar pengakuan Nai.
"Nai, kapan kau siap untuk menikah?."
"Entah lah kak."
Mereka membisu.

Nai tak sempat mempertanyakan perasaan Ahyad sebenarnya pada dirinya. Nai terlalu melihat dirinya yang mungkin bisa menjadi pilihan terakhir Ahyad. Ahyad sebenarnya tak bisa menunggu lebih dari ini. Ahyad bukan seperti lelaki kebanyakan yang berdiam dengan perasaan cinta tanpa ikatan yang suci. Ahyad tidak terbiasa dengan istilah pacaran, hubungan tanpa status, apapun istilahnya Ahyad tidak terlau peduli. Namun bagi Ahyad wanita yang mencintainya adalah wanita yang mempersilahkan dirinya untuk menemui walinya, meminta cinta perempuannya melalui ayah yang berhak akan diri perempuannya.

Ketika waktu terus berlalu menumpuk rindu. Rindu tak berbalas menumpuk ragu. Nai mulai ragu pada Ahyad yang entah mengapa banyak bicara dengan perempuan lain. Ahyad yang terlihat tidak puas dengan keputusan Nai, memaksakan diri terlihat berupaya mendapatkan perempuan lain selain Nai.
Ahyad lelah melihat Nai yang seakan terbiasa tanpa dirinya. Ahyad perlahan menjauh menyisakan jarak yang tak mungkin dapat terisi lagi bagiannya oleh Nai.

Ahyad perlahan pergi. Sementara Nai menunggu. Kini Nai mempertanyakan cinta dan perasaan Ahyad. Satu jawaban yang selalu di perdengarkan padanya, "Nai, Ahyad mencintai mu."
Ahyad mengapa kau menyimpan semuanya sementara Nai menunggu, mempertanyakan dan tak pernah memahami perasaan yang kau harapkan padanya. Nai cukup merasa bersalah dengan sikap diamnya, sikapnya yang tidak peka pada apa yang Ahyad berikan selama ini. Nai terlalu tidak peka pada Ahyad.

Nai kehilangan jejak Ahyad, ramadhan demi ramadhan tak Nai temui kabar Ahyad. Nai perlahan menghilangkan semua kenangan, bayangan, cerita yang Ahyad bagi bersamanya. Nai perlahan terbiasa tanpa benak Ahyad di kehidupan masa depannya. Bagi Nai, Ahyad tak ubahnya sama dengan lelaki lain yang pernah menyisakan ruang dihatinya untuk Nai, lalu pergi entah kemana meninggalakn Nai dan kenagannya.
Nai hampir terbiasa tanpa Ahyad, sebelum handphone berdering.
"Halo?" Sapa Nai pada seseorang jauh disana.
"Nai?" tanya seseorang pada Nai dari sebrang sana.
"Iya. Ini siapa?. Eh, kakak? Kak Ahyad?." Nai urung bertanya, suara itu yang telah lama Nai kenal.
"Iya Nai. Apa kabar?" tanyanya lagi membuat Nai perlu menutup mulutnya untuk menahan tawa bahagiannya.
"Aah, iya. Nai baik. Bagaimana kabar kakak disana?."
"Sama baiknya dengan Nai. hehehe."
"Kakak kemana selama ini? Nai menungg ... eh maksudnya Nai, Nai ... " suara Nai tercekat, tergagap.
"Kenapa Nai? Nai kenapa?." tanya Ahyad berupaya menyakinkan apa yang di dengarnya.
"Ah tidak. Sekarang kakak sibuk apa?." Nai berlaga bodoh dengan pernyatannya sendiri.
"Sibuk ini itu. Maaf, kalau kakak pergi, menghilang dan muncul secara tiba -tiba. Semuanya serba tiba -tiba dalam hidup kakak."
"Aah, tidak masalah." bathinnya berbohong, tentu ini masalah bagi Nai yang mempertanyakan yang menunggu. Hanya saja Ahyad tidak pernah tahu itu. "Oh ya, maksudnya semuanya serba tiba -tiba bagaimana?."
"Ya, kau tahu Nai. Kakak harus resign dari kantor dengan tiba -tiba. Karena secara tiba - tiba kakak di terima di tempat kerja yang baru, yang selama ini kakak impikan Nai."
"Oh ya?. Lalu apa lagi yang membuat hidup kakak begitu tiba - tiba." Nai terkekeh mencoba ada dalam keadaan hidup tiba -tiba Ahyad.
"ya, Nai semuanya tiba -tiba. Tiba -tiba kakak berjumpa dengan adik seperti mu. Kemudian tiba -tiba kakak harus meninggalkan sahabat baik seperti mu. Dan kau tahu Nai? tiba - tiba kakak merasa siap untuk menjadi seorang imam." Ahyad terdengar antusias menceritakan semua kejadian dalam hidupnya. Nai tergagap mendengar semua pengakuan Ahyad.
"I... iya kak. adik... adik kak?. Imam? Imam apa?." Entah tersa sesak dalam dada Nai.
"Iya Nai, adik - kakak ketemu tua, hahahha. Lucu ya Nai?."
"Aaaah, iya benar." Nai terdengar datar, menghela nafas panjang. Air matanya mulai mengalir. Entah perasaan apa.
"Ah, iya. Kakak akan segera menikah Nai." Nai tertegun, menahan gemuruh didadanya.
"Nai?."
"Eh Iya kak. Menikah?."
"Iya kakak anak menikah Nai."
"Ooh, kapan?." tedengar labih berat dengan air mata yang terus berlinang.
"Bulan ini." Ahyad masih terdengar antusias. Tak terdengar bersalah.
"Syukur kak. Siapa wanita yang telah beruntung mendapatkan kakak ku ini?." Hah Kakak ku?. Naif benar semua yang Nai katakan. Hatinya jauh lebih rapuh.
 "Teman satu kantor kakak, sama shalehahnya dengan mu. Kakak harap kamu juga segera menemukan kekasih terakhir mu, Nai."
"Wah sungguh bahagianya. Baiklah kak, semoga menjadi keluarga yang sakinah yaa." Kata Nai berharap semuanya berakhir.
"Terima kasih Nai, aamiin. Kamu pun segera menikah. Jangan hanya menanti, menanti, akhiri penantian mu, Nai."
"Ah tentu kakak, ternyata ini bukan penantian terakhir Nai." Ini bukan penantian terakhir bagi Nai, Nai terlalu lama percaya pada kesetian semu itu.
"Iya, segeralah menikah." Kata Ahyad mengakhiri.
Sungguh beruntung lelaki yang berani menanti mu, Nai. Seandainya aku bisa lebih sabar menunggu mu, Nai.
***
Tatapan mata itu tak asing baginya, begitu dekat, begitu terbiasa. Matanya berkca - kaca tak percaya.
"BArakallah ya kak." Kata Nai sambil mengatupkan tangannya di depan dadanya.
"Terima kasih Nai, akhiri penantian mu Nai." Kata Ahyad tak kalah khusyuknya menguatkan perasaannya.
Nai hanya mengangguk tanpa mampu menatap mata Ahyad dan istrinya.
"Semoga kelak kau dapat dipertemukan untuk di persatukan." Kata Ahyad berusaha menjadi kakak imagi yang baik untuk menghibur luka hati Nai.
Nai kembali menganggukkan kepala. Menggema dalam gemuruh dada Nai,
"Dipertemukan untuk di persatukan."



Selasa, 01 Juli 2014

Kesejahterahaan



Labil ekonomi dan kesenjangan sosial adalah masalah yang tak kunjung selesai menghampiri negeri NKRI ini. Tepat di halaman belakang gubuk kumuh pemukiman warga, dengan angkuhnya berdiri gedung-gedung perkantoran, apartemen, de el el. Persis di depan rel kereta api berjejal para pengais rejeki, pengemis dan pedagang. Sementara belakang pasar kumuh itu berdiri kokoh mall metropolitan, tempat orang elite menghabiskan sisa senjanya. Kesenjangan ini tidak hanya menjangkit mereka yang nyata saja namun mereka mahluk astral pun mengalaminya.

Miris rasanya ketika melihat visualisasi hantu-hantu di Indonesia, Kuntilanak yang tak kunjung bisa go international kaya Agnes Monica. Pocong yang menghabiskan masa gentayangannya dengan melompat, sekedar untuk les skatebroad aja mereka gak mampu. Banyak kisah – kisah horor lainnya yang mengharukan. Gue sebagai komentator berdasarkan dari kacamata ke-sotoy-an, gue mau gamblangin betapa tersiksanya para hantu Indonesia ini, serius! Aseli! Serem!!!.



Mulai dari kisah klasik tentang hantu yang populer di tahun 1982an, seorang anak yang malang. Iya, dia adalah Bayi Ajaib. Bermula dari kerasukan gak sengaja. Hidup si Bayi Ajaib ini jadi bener-bener ajaib. Pertama adalah ketika dia kebal di sunat, kasian banget. Padahal dia pengin banget naik Singa Depok, sayang karena gagal di sunat hajatan itu bubar. Kedua adalah ketika Bayi Ajaib itu main. Loe bayangin aja diusianya yang sedang ingin bermain, dia gak punya teman dan tempat main. Akhirnya dia tiba – tiba nonggol di bak mandi tetangganya, entah nyasar atau bagaimana?. Sungguh mengharukan, pemukiman kumuh yang dialih fungsikan menjadi taman kota baru, belum terlaksana. Dan si Bayi Ajaib tak sempat bermain disana. Beda banget sama anak - anak zaman sekarang dengan mudah mereka bisa online di warnet terekat, namun apa daya Bayi Ajaib ini belum sempat merasakan canggihnya teknologi internet, seandainya... seandainya... seandainya...
Kasian!!!

Tak kalah mengharukan adalah kisah klasik yang direka ulang oleh Ratu Horor Indonesia, yups! Suzana. Berkisah tentang perempuan yang akan melahirkan. Alih-alih dibawa ke rumah sakit karena butuh di caesar. Dengan kekuatan dan keajaiban yang entah dari mana, dengan inisiatif kandungannya pindah ke punggung. Akhirnya anak itu dapat terlahir dengan mengharukan dari punggung ibunya, tanpa bantuan operasi caesar.  Operasi caesar belum banyak terdengar di daerah pegunungan (ceritanya emang tinggalnya dipegunungan gitu). Anak yang lahir itu adalah salah satu korban ketinggalannya teknologi caesar di Indonesia.


Sementara ibunya jadi gentayangan dan beken dengan nama horor “Sundel Bolong”, wekwew -.-“. Harusnya Sundel Bolong itu gentayangan dengan cara demo, menuntut hak persalinan yang layak. Gue yakin kalau nih Sundel Bolonng bisa demo di depan gedung DPR kala itu, pasti beliau udah dapet nobel “Pembela hak persalinan keluarga hantu berencana”. Dan dia bisa dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Hak Hantu Perempuan. Gue juga yakin banget wajahnya bisa nongol di uang kertas cetakan tahun ke 10 pasca dinobatkan jadi  pahlawan pembela hak kaum hantu wanita.



Gue setuju banget sama jargon “Stop kekerasan dan eksploitasi pada anak”. Ternyata di dunia tidak kasat mata pun hal ini terus terjadi dan menjadi hal yang lumrah. Loe bayangin aja, anak – anak hantu yang polos, pelontos dan putus sekolah. Teganya dieksploitasi untuk bekerja paruh waktu di malam hari. Dengan berat hati mereka berusaha menjalani ini semua. Ya, mereka adalah Tuyul. Tuyul yang menggemaskan. Mereka di paksa untuk mengambil uang tetangga, atau mencuri barang apapun yang bisa mereka bawa. Gue yakin mereka gak sungguh – sungguh lakuin ini, hanya di iming-imingi satu atau dua ekor ikan hias, sebagai mainan. Sadis!.

Sebenernya, Tuyul ini gak punya pilihan lain mereka gak bisa jadi tukang ojek payung, modalnya terlalu besar. Selain harus punya payung, mereka juga harus punya jas hujan. Sementara sekarang untuk mengganti celana dalamnya aja mereka gak mampu. Dimana sisi pendidikan untuk anak-anak hantu ini??. Bagaimana bisa mereka menjadi pewaris generasi penerus? Kalau dari kecilnya di eksploitasi untuk mencuri. Kalau Kak Seto tau, beliau pasti sedih dengan hal ini.
 

Lagi, lagi Cuma di Indonesia. Orang – orang Indonesia paling gak apresiasif sama komunitas alam ghaib. Loe liat aja, di negara – negara bagian ada hari Hallowen. Menurut gue itu adalah cara apresiasi mereka mengenang andil hantu dalam memajukan perekonomian di negaranya. Jelas, di luar negeri Hallowen begitu penting. Loe pasti familiar sama hantu – hantu luar negeri yang udah go international. Seperti Drakula, Zombie, Penyihir –penyihir yang legendaris, hantu di film Ju-On yang melegenda sampai ke Benua Amerika, beeuuuhhh... .


Hantu – hantu disana udah berperan aktif sebagai aktor atau aktris yang bisa go international. Lah hantu di Indonesia paling yang bisa diperingati itu adalah Pemberian sesajen ke Pantai Selatan. Meskipun Penguasa Pantai Selatan itu udah gak eksis lagi di dunia perfilman. Beliau juga kalah tenar sama jalan Pantura (beuh, apa hubungannya?). -.-'

Fasilitas yang di tawarkan untuk hantu di Indonesia gak kalah memilukan. Loe masih ingetkan gimana fasilitas mewah yang dimiliki oleh Drakula?. Beuh, tajir abis. Tinggalnya aja di Castle. Coba hantu di Indonesia, paling keren nih ya di lift rumah sakit atau kamar mayat. Selebihnya M.E.L.A.R.A.T!!!. Loe tau, Sundel Bolong tadi yang gagal dapet nobel tinggal dimana?. Dia jadi tuna wisma, dan terpaksa nomaden. Dari satu pohon ke pohon lain, dari satu kuburan ke kuburan lain. Malang!. Gak Cuma Sundel Bolong, tapi hampir semua hantu menggalami nasip yang serupa. Jangankan jadi kontraktor (maksudnya ngontrak) rumah mewah kaya Drakula. Ngekos dipinggiran sungai aja gak mampu.
           
Belum lagi beberapa hantu yang terpaksa kerja di tempat hiburan malam. Loe tau Arwah Goyang Pinggul?. Ya, dia gak punya pilihan lain selain jadi penari latar di sebuah bar. Ada lagi hantu yang nasibya naas. Loe tau Kuntilanak Keserupan?. Itu adalah karena kejombloan akut yang dideritanya. Dia banyak ngelamun, galau dan gak responsif, akhirnya dia kesurupan. Meski gue gak paham setan mana yang tega merasuki tubuh ringkihnya.

Gue gak tau dilema ini sampai kapan. Gue juga merasa prihatin sama kesenjangan didunia perhantuan selama ini. Gue yakin, kalau nanti kita sebagai anak muda bangsa yang bisa ngasih kesempatan yang sama, kepada para hantu itu. Dari segi pendidikan, fashion, gadget, kecakapan dan keahlian mungkin suatu saat akan ada hantu Indonesia yang bisa go international dan sejahterah. 

segitu aja sih dari gue, ya gitu deh gue juga ga tau.
Udah ga usah protes deh sama gue ya.